Sego Bungkus Bu Poer

Kangen dengan makanan rumah yang ramah di lidah? Datang saja ke Warung Bu Poer. Tempat ini menyajikan menu nasi bungkus dengan berbagai lauk pilihan. Mau nasi putih, nasi jagung, nasi kuning hingga nasi merah pun ada. Sedangkan untuk pelengkapnya, tersedia oseng-oseng, ayam goreng, olahan ikan serta gudeg. Nasi bungkusnya nggak harus dibawa pulang kok, bisa juga dimakan di tempat. Satu porsi dihargai sekitar Rp12.000 dan warung Bu Poer ini buka dari pukul 06.30. Kamu yang ingin sarapan dengan kuliner menggiurkan bisa datang ke sini.

Lokasi : Jl. PB Sudirman Banyuwangi, seberang BNI Syariah,

Siapa yang tidak suka dengan nasi bungkus? Selain praktis dan murah, nasi bungkus menjadi solusi ketika sewaktu-waktu kelaparan menyerang. Nah jika melancong ke Banyuwangi, Jawa Timur, tidak ada salahnya anda mencoba nasi bungkus bu Poer yang berada di tengah kota Banyuwangi, tepatnya di Jalan PB Sudirman atau utara simpang lima Banyuwangi. Dengan lokasi strategis di pinggir jalan dan buka mulai jam 7 pagi hingga 9 malam, warung nasi bungkus bu Poer pas menjadi tempat makan mulai sarapan, makan siang hingga makan malam. Selain itu tempatnya yang nyaman dan bersih, cocok untuk sekadar nongkrong bersama keluarga, kerabat dan sahabat.

Nasi bungkus favorit yang banyak dipesan adalah nasi bungkus sambel ijo. Harganya cukup terjangkau hanya Rp 5.000 per porsi, anda sudah mendapatkan nasi hangat dengan suwiran ayam goreng dengan sambal ijo yang pedas dibungkus menggunakan daun pisang. Selain itu ada empat jenis nasi yang bisa dipilih, ada nasi jagung, nasi putih, nasi gurih (uduk), dan nasi merah. Cara membungkusnya pun unik yaitu di bentuk seperti gunungan atau kerucut, agar lebih mudah saat dikonsumi. “Jika mau tambah lauk juga boleh ada macam-macam mulai tahu fantasi, ikan laut, telur dadar, oseng-oseng mercon dan berbagai jenis sayuran. Harganya beda-beda tapi sangat terjangkau,” kata Purnomowati (65), pemilik warung nasi bungkus kepada KompasTravel, Selasa (10/1/2017).

Perempuan yang akrab di panggil bu Poer tersebut, mengaku sudah dua tahun ini mengelola warung tersebut dan sudah memiliki langganan tetap termasuk wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. “Banyak yang ke sini mulai dari orang luar kota sampai bule-bule. Ada yang makan sini, ada juga yang pesen nasi bungkus dibawa pulang. Ya, yang favorit ya nasi bungkus sambal ijo,” jelasnya. Ia juga bercerita, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas beberapa kali mengajak keluarganya untuk makan di tempatnya. “Kalau bu Dani, istrinya pak Anas sukanya pesan nasi merah. Sering sekali. Kalau nggak ke sini langsung, ya biasanya nyuruh orang buat belikan,” katanya. Untuk menjaga rasa menu di warungnya, bu Poer sendiri yang langsung turun tangan ke dapur untuk memasak. Biasanya, dia memasak pada pagi hari untuk menu sampai siang dan pada sore hari untuk menu hingga malam hari. “Biar fresh,” katanya. Bukan hanya nasi bungkus, warung bu Poer juga menyediakan nasi gudeg yang rasanya tidak jauh beda dengan tempat asalnya yaitu Yogyakarta. Bu Poer mengaku sengaja memilih nasi gudeg sebagai salah satu menu andalannya karena suaminya asli Yogyakarta dan dia sendiri pernah tinggal di Yogyakarta. “Ceritanya saya ini pulang kampung karena nggak ada kegiatan jadi ya jualan lagi. Dibuatin warung sama anak saya buat kesibukan” katanya sambil tersenyum.

Berawal dari Jualan di Pinggir Jalan Kepada KompasTravel, bu Poer bercerita merintis warung nasi bungkus sejak tahun 1987. Saat itu, perempuan yang hobi memasak tersebut menerima pesanan katering dari beberapa pabrik yang ada di Banyuwangi. Pada tahun 1995, dia berjualan menggunakan mobil yang dimodifikasi menjadi seperti warung sehingga dia bisa jualan keliling di wilayah kota Banyuwangi. “Waktu itu mobil nganggur di rumah akhirnya saya rombak semuanya bagian belakang bisa dibuka dan dibuat meja di kasih kursi. Saya masak sendiri saya sopiri sendiri. Waktu itu masih belum ada yang jualan pakai mobil. Saya berangkat jam 9 dan jualan di depan bank, terus pindah lagi dan itu berjalan hingga 2 tahun. Tahun 1997 saya pindah ke Yogyakarta,” kata bu Poer. Di kota pelajar tersebut, bu Poer kembali mencoba peruntungan dengan berjualan nasi bungkus dan menyewa warung kecil di dekat Atmajaya tepatnya di Jalan Merican. Ia menjual sego penyet khas Banyuwangi dan tidak disangka warung tersebut berkembang dengan pesat hingga dia memiliki enam cabang di Yogyakarta dengan jumlah karyawan mencapai 100 orang. “Saat reformasi, tepat di depan warung saya ada demo dan ada yang meninggal namanya Moses Gatotkaca dan sejak itu jalan depan warung saya diganti namanya dengan Jalan Moses dan warung saya sempat pindah ke Kaliurang,” kenangnya. Hingga saat ini, ada empat warung sego penyetan khas Banyuwangi yang dimiliki oleh bu Poer di Yogyakarta dan dikelola oleh anaknya. Tahun 2013, bu Poer memilih pulang ke kampung halamannya di Banyuwangi dan kembali berjualan menggunakan mobil di wilayah Pantai Boom. Karena langganannya semakin banyak, ia kemudian memilih berjualan di warung dan menetap tidak berpindah-pindah lagi. “Anak saya yang buatkan warung ini. Katanya buat hiburan saya di Banyuwangi dan nggak nyangka warungnya juga ramai seperti yang ada di Jogja,” katanya. Menurut bu Poer, niatnya membuka warung bukan hanya sekadar untuk mencari uang. Di warung tersebut, bu Poer mengaku bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang. “Usia saya sudah masuk usia pensiun tapi nggak mau kalau diam saja di rumah. Di sini kan bisa masak bisa ngobrol dengan banyak orang jadi lebih senang saja,” ujarnya. Bu Poer mengaku setiap bulan Februari dalam satu hari semua penghasilan yang didapatkan di warung tersebut disumbangkan untuk anak yatim piatu serta orang yang tidak mampu. “Biar berkah dan semua orang bisa ikut senang,” pungkasnya. 

sumber : https://travel.kompas.com/read/2017/01/10/114500427/di-tangan-bu-poer-nasi-bungkus-ini-naik-kelas?page=all

MAKANAN ENAK BANYUWANGI

Uyah Asam Pitik

Makanan khas Banyuwangi yang terbuat dari ayam kampung dan campuran bongkot kecombrang ini memberikan sensasi rasa segar sekaligus asam, seperti namanya.

Rasa asam muncul dari irisan belimbing wuluh. Selain itu, kuliner tradisional khas Banyuwangi ini juga disajikan lengkap dengan tambahan sayur-mayur termasuk kacang panjang dan irisan bongkot.

Suku Osing biasanya menyebut sajian ini dengan nama uyah asem. Kata ‘jangan’ berarti sayur. Meskipun dinamai ‘sayur’, sajian ini enggak melulu berisi sayuran lo. Makanan berkuah ini berbahan dasar ayam kampung, pepaya muda, dan belimbing wuluh. Ada juga yang menambahkan honje atau kecombrang juga ranti atau leunca ke dalam sajian ini.

Soal rasa, uyah asem pitik ini segar banget. Sensasi pedas berpadu dengan asam yang bikin ketagihan. Meskipun tak setenar sego tempong ataupun pecel rawon, uyah asemm pitik tetap diburu pelancong. Dulunya, makanan ini hanya dihidangkan saat acara tertentu saja. Namun kini, uyah asem pitik bisa ditemui di kedai makan di Banyuwangi.

Satu porsi uyah asem pitik berisikan potongan ayam dengan sayur seperti pepaya muda, kacang panjang, belimbing, wuluh, dan honje. Selain itu, ada juga pendamping seperti sambal mentah, kerupuk, dan potongan tempe. Paling enak, sajian pedas, gurih, dan segar ini dinikmati bersama nasi hangat di siang hari.

RESEP UYAH ASEM PITIK

BAHAN-BAHAN

500 gram daging ayam
6 siung bawang merah
1 siung bawang putih
5 buah cabe merah besar
6 buah blimbing wuluh
Kecombrang secukupnya
2 buah ranti ukuran sedang
3 lembar daun jeruk
10 buah cabe rawit
Garam, secukupnya
Gula, secukupnya
Merica halus, secukupnya
3 sdm minyak goreng

CARA MEMBUAT

1. Rebus daging ayam yang sudah dicuci. Masukkan air sampai kira-kira dagingnya tenggelam, rebus selama 10 menit.

2. Setelah ayam matang, cuci lagi dengan air mengalir. Buang air rebusan tadi lalu rebus lagi menggunakan air baru. Jika tidak menggunakkan air rebusan baru, kuah akan mengental jika dingin.

3. Haluskan dua bawang, dua cabai dan ranti. Khusus untuk ranti di uleg kasar saja. Tumis dengan 3 sendok makan minyak hingga matang lalu masukkan dalam rebusan ayam.

4. Masukkan blimbing wuluh yang sudah diiris, kecombrang, dan daun jeruk. Masak dengan api sedang.

5. Masukkan garam, gula, dan merica halus sesuai selera. Hidangkan selagi hangat.

Sop Kesrut

Makanan khas Banyuwangi yang satu ini terkenal dengan rasa pedasnya. Saking pedasnya, setiap orang yang menyantap sop kesrut akan menahan ingus yang keluar dari hidung, atau yang biasa disebut dengan kesrut kesrutan dalam bahasa suku Osing.

Sekilas sup yang satu ini tidaklah berebeda dengan sup jenis lainnya yang biasa Anda makan, hanya saja ada beberapa menu pelengkap yang berbeda yaitu berupa sambal tempong yang sangat khas. Sup kesrut ini juga terbuat dari olahan ayam dengan kuah kaldu yang sangat kental dan juga pedas.

Cara membuat Sop Kesrut

Bahan-bahan

  1. 250 gr daging ayam
  2. bumbu
  3. 4 siung bawang merah
  4. 5 buah cabe rawit
  5. 3 buah cabe besar
  6. 1 buah tomat
  7. sedikit terasi (me: saya skip)
  8. lengkuas secukupnya (digeprek)
  9. secukupnya gula, garam, kaldu bubuk ayam
  10. 5 buah blimbing wuluh
  11. 1 batang daun bawang

Langkah

  1. Rebus bawang merah, cabe rawit, cabe rawit dan tomat hingga empuk, kemudian haluskan. tumis sebentar, sampai aroma keluar. sisihkan  
  2. Rebus ayam dengan air secukupnya. jika ayam sudah empuk tambahkan bumbu yg sudah ditumis.  
  3. Tambahkan gula, garam, kaldu bubuk ayam.  
  4. Tambahkan potongan blimbing wuluh. tunggu blimbing agak layu. tambahkan daun bawang.  
  5. Koreksi rasa. dan siap dihidangkan  

PECEL RAWON BANYUWANGI

Pecel Rawon Banyuwangi – Apa bayangan Anda jika dua makanan yang berbeda jenisnya dijadikan satu? Yang satu berbahan dasar sayuran, satunya berkuah dan berbahan daging. Pecel Rawon, ini nama hasil perpaduan antara nasi pecel dan rawon. Tidak usah hanya dibayangkan karena makanan ini benar-benar ada dan bisa dinikmati di Banyuwangi.

Pecel dipadu dengan rawon mungkin terasa mengada-ada, tapi jika Anda sempat mencicipinya, penilaian Anda akan berubah terhadap kuliner yang satu ini. Seperti halnya Rujak Soto yang merupakan perpaduan antara Rujak dan Soto, Pecel rawon adalah perpaduan antara pecel yang terdiri dari sayuran yang diberi bumbu kacang kemudian disiram dengan kuah rawon daging. Tapi berbeda dengan rujak soto yang menggunakan lontong, pecel rawon memakai nasi.

Pecel rawon atau rawon pecel sudah menjadi makanan khas Banyuwangi. Makanan ini cukup mudah ditemukan mulai dari restoran hingga warung-warung kaki lima di Banyuwangi. Salah satu warung makan pecel rawon yang dikenal masyarakat luas adalah Rumah Makan Pecel Ayu di Jalan Laksda Adisucipto 60, Banyuwangi.

Di rumah makan ini, pecel rawon disajikan lengkap dengan menu lauk-pauknya. Seporsi pecel rawon di RM Pecel Ayu terdiri dari sepiring nasi pecel yang berisi sayuran rebus, seperti bayam, taoge, kacang panjang, dan sambal pecel, ditambah kuah rawon. Pelengkapnya, udang goreng, empal sapi, ragi, paru goreng kering, dan remukan rempeyek kacang.
Paduan sambal pecel dan kuah rawonlah yang menjadi keistimewaan pecel rawon Ayu. Menurut Sulistyawati (53), pemilik Rumah Makan Pecel Ayu, bumbu sambal pecel diracik sendiri. Cabai yang digunakan pun hanya cabai rawit merah. Hasilnya, walaupun dicampur dengan kuah rawon, rasa gurih kacang dan pedasnya cabai tak kehilangan rasa.
Kuah rawon kaya dengan rasa rempah dan kaldu. Rasa manis yang biasanya ada di kuah rawon tidak terasa dominan. Hal inilah yang justru membuat paduan pecel dan kuah rawon menjadi pas karena sebagian rasa manis sudah didapatkan dari guyuran sambal pecel.
”Tidak ada bumbu yang rahasia, hanya bumbu rawon biasa, seperti keluwak, jahe, kencur, kunir, dan daun jeruk,” kata Sulistyawati membeberkan resepnya.
Untuk menghasilkan rawon beraroma rempah dan berasa gurih, berbagai macam rempah itu dihaluskan, kemudian disangrai agar aroma sedap masing-masing bumbu menyatu. Setelah disangrai, bumbu pun diperas dan hanya air perasan yang dipakai untuk bahan memasak. Air perasan bumbu itu kemudian dicampur dengan air kaldu hasil rebusan daging sapi dan paru.
Di Pecel Ayu, pecel rawon dihidangkan tanpa daging rawon, kecuali ada permintaan. Adapun paru, diiris tipis dan digoreng kering sebagai lauk pelengkap pecel rawon. Peyek udang, peyek kacang, ragi kelapa, ataupun sambal menemani hidangan pecel rawon.
Dalam setiap penyajian, Sulistyawati tidak sembarangan meracik pecel rawon. Ia selalu meracik dengan urutan tertentu. Piring ia isi dengan nasi dan sayur rebus terlebih dulu. Setelah itu, nasi sayur ia guyur dengan kuah rawon. Baru kemudian dia menambahkan sambal pecel sebagai topping. Menurut dia, dengan penyajian berurutan seperti itu, gurih dan pedasnya sambal pecel tetap terasa.

Meskipun pecel rawon sudah umum di Banyuwangi, namun Sulistyawati memastikan pada tahun 1975 hidangan pecel rawon belum pernah ia jumpai. Perempuan asli Banyuwangi ini mengawali berjualan pecel rawon pada tahun 1988 dengan gerobak di pinggir jalan kawasan Singomatan, Kota Banyuwangi. Saat itu sudah banyak penjual pecel rawon dari kelas kaki lima hingga restoran.
Ketika Sulistyawati mulai berjualan dengan gerobak di pinggir jalan kawasan Singomatan pada tahun 1988, pecel rawon sudah populer. Sulistyawati beruntung saat itu memiliki seorang pembantu yang pintar memasak, yakni almarhum Sumini. Dari Sumini-lah, Sulistyawati mempelajari resep rawon dicampur pecel.

Rumah makan Sulistyawati terus berkembang. Setelah enam tahun berjualan di pinggir jalan, pada tahun 1994 Sulistyawati mengontrak sebuah rumah di dekat Kantor Pemerintah Daerah Banyuwangi. Usaha berkembang pesat dan pada tahun 1997 Sulistyawati mampu membeli rumah di Jalan Adisucipto yang menjadi lokasi usahanya hingga kini.
Rumah Makan Pecel Ayu yang kini ia tempati awalnya hanya sebesar ruang tamu dan ruang tengah, tetapi kian hari kian berkembang setelah ia membeli rumah sebelah warungnya. Kini sisi utara yang berupa teras pun diisi dengan kursi dan meja makan. Jika dulu Sulistyawati bekerja dengan dua karyawan, kini ia dibantu 11 karyawan.
Ia membuka warung dari pukul 07.00 hingga pukul 21.00. Hanya pada Lebaran warungnya tutup selama sepekan. Warung itu pun tak pernah sepi. Jumlah pembeli diperkirakan mencapai 400 hingga 600 orang per hari. ”Sulit mengukur berapa kebutuhan bahan baku harian. Yang jelas, dalam sehari saya harus berbelanja sekitar 30 kg daging, udang, dan paru,” katanya.
Untuk minuman, Rumah Makan Pecel Ayu mempunyai menu es dawet dan es campur. Kedua minuman itu menjadi minuman favorit para pembeli di Pecel Ayu, bersanding dengan hangatnya pecel rawon.

Setelah Anda mengenal Rujak soto, tidak ada salahnya juga menikmati Pecel Rawon jika berkunjung ke Banyuwangi. Keduanya sama enak dan nikmatnya. Maknyus pokok e.

SEGO TEMPONG KHAS BANYUWANGI

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki cita rasa kuliner yang begitu menggugah selera siapa saja yang mencicipinya. Nah bagi Anda yang sedang berlibur ke suatu tempat tentu saja tidaklah lengkap rasanya jika Anda tidak mencicipi makanan khas dari daerah tersebut. Salah satu makanan khas yang bisa memanjakan lidah Anda adalah makanan khas Banyuwangi. Nah berikut beberapa makan yang bisa Anda cicipi jika Anda berkunjung ke Banyuwangi ini:

Nah makanan khas banyuwangi yang pertama yang bisa Anda cicipi adalah bernama nasi tampar atau lebih dikenal dengan sebutan sego tempong. Tahukah Anda kenapa disebut dengan nasi tampar? Hal ini karena rasa lezatnya sangatlah lezat dan mampu menghipnotis siapa saja, sehingga seakan- akan si pemakannya harus ditampar sehingga sadar.

Nah nasi ini sekilas tidaklah berbeda dengan nasi pada umumnya yang Anda makan, karena terdiri dari nasi, kemudian juga terdapat lauk pauk, seperti ikan dan juga sayur mayur yang sudah dimasak. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan bumbu yang menjadikan nasi ini sangatlah lezat dan juga nikmat, sehingga Anda wajib untuk mencobanya.

MAKANAN KHAS BANYUWANGI

Makanan Khas Banyuwangi – Kabupaten Banyuwangi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten yang biasanya di kenal dengan sebutan Bumi Blambangan ini tak hanya terkenal dengan cerita legenda Damarwulan dan Adipati Minak Djinggo nya saja. Terdapat berbagai macam kuliner dari ayng berupa jajanan pasar sampai makanan yang unik seperti rujak soto.

Kalian bisa temukan variasi makanan yang beragam di kabupaten ini. Nah,,, untuk kalian yang ingin tahu apa saja makanan khas Banyuwangi, dibawah ini adalah list makanan yang wajib kalian coba jika sedang berkunjung ke Banyuwangi.

1. Rujak Soto Banyuwangi

Masuk ke makanan khas Banyuwangi yang pertama yaitu, rujak soto. Makanan satu ini adalah fusion dari makanan rujak dan soto, pas seperti namannya. Penggabungan keduanya memberi dimensi rasa yang baru, ada kelezatan ganda setiap kali menyantapnya.

Rujak member sensai rasa segar-pedas sedangkan soto kental dengan rasa gurih dan sedap. Rasa rujak yang sangat segar kemudian juga diguyur dengan kuah yang terdiri dari potongan daging babat serta juga telur puyuh. Dijamin Anda akan ketagihan dan juga ingin mencobanya lagi dan lagi.

2. Pindang Koyong

Bagi kalian pecinta menu ikan, makanan ini tak boleh anda lewatkan. Pindang koyong berbahan dasar ikan tenggiri segar yang diperoleh dari laut sekitar Banyuwangi.

Proses pembuatan pindang koyong ini banyak menggunakan rempah-rempah yang membuat cita rasa makanan ini semakin kaya, seperti sereh, lengkuas, cabai rawit, belimbing wuluh, bawang merah dan bawang putih, serta tambahan daun jeruk.

3. Pecel Pitik

Tahukah Anda jika pecel pitik ini merupakan makanan yang biasa disajikan pada acara yang khusus seperti acara adat atau upacara adat dari suku Osing. Suku Osing ini merupakan suku asli di Banyuwangi.

Biasanya makanan ini dibuat untuk kepentingan adat yaitu berupa ayam kampung yang diurap dengan bumbu dan parutan kelapa. Daging ayam terlebih dahulu disuwir-suwir kemudian kelapa yang digunakan juga tidak dimasak. Dengan kata lain, diurap mentah-mentah dengan bumbu.